Days are so unkind lately, and I still don’t know why these tears fall down..
I cant blame the gravity, neither can I curse the rain nor sun
I don’t know why the rainbow looks grey, but yesterday looked the same
I cant blame the day, neither can I kill the pain
Lonely goes along the way
Leaves traces so clear
I wished to see the shining ray
But all I got was fear
Until my life is over, I can say for real
That the light comes only when I got my pills
Saturday, August 13, 2005
Days
Days..sometimes they are just nothing but a bit strange, aren’t they? Well, yes, slowly, u feel driften away from the things u used to hold on to..
It’s not about losing faith…u can’t stay alive if u lost ur faith, on anyting…it’s about shifthing, changing, and it feels like forever crawling…
Days,
Only days that were left along our ways,
Only times filled with joy, sometimes tears,
And silence
Only memories that I can taste
There are questions about what is real
And what is fake
Also questions about eternity
Memories can drawn, yet it will not fade that easily
I can die, yet my picture can last in your mind, until everything has become dark
There is a picture of you being gray-haired
Reading the newspaper while I’m having my morning tea
There’s a picture of the whole u being mine
If there is ever the whole u, mind, body, and soul…
Will u ever want to try?
Will u ever want to risk it?
It’s nothing but a hard work,
And bless…
There’s an image of love we may have, or we may lose
I can love u enough
Can u love me back?
There is a picture of me being alone
Watching u gone, or watching nothing at all
But there will still be days
When everything we have is everything…
Untuk abang yang baik, yang selama hampir setahun ini menjadi seorang teman yang baik…mudah2an abang terus berubah menjadi lebih baik, terus belajar, terus berkembang tanpa harus kehilangan jiwa murni kanak-kanak yang mempesona itu…seandainya kita ditakdirkan untuk saling melupakan, mudah-mudahan takkan ada satu kenangan pun yang tertinggal, agar tak ada yang memiliki kesempatan untuk menggores hati abang…
Teteh sayang abang.
Pagi dari Sebuah Jendela
Gua ga yakin gua bisa ngelakuin ini. Setelah lama lo tinggalin gua, lo muncul lagi di hidup gua, meski cuma lewat saluran nirkabel. Dan gua harus ngasih kesaksian buat lo. Gua ga yakin lo mau ngedenger ini, tapi bagi gua lo adalah penipu yang paling licik dan kejam. Lo punya muka bidadari, tapi otak lo otak lucifer. Lo mungkin bisa nipu semua orang dengan senyum angelic lo, termasuk gua. Dulu lo pernah bareng gua, lo pernah ngisi hidup gua, dan ironisnya, lo pernah nyelamatin gua. Lo datang dan lo rapiin hati gua, lo terangin jalan gua, lo dengerin kutukan-kutukan gua, sumpah serapah gua. Lo bersihin darah gua, lo sembuhin kegilaan gua. Tapi lo bener-bener penipu yang licik dan kejam, kejam dan licik. Menurut gua, lo orang yang paling munafik sedunia! Lo pernah bilang kalo lo ada di sana buat gua, dan lo ngebuktiin hal itu. Lo selalu ada kalo gua butuh, lo ada waktu gua sedih, dan lo nambah kebahagiaan gua waktu gua seneng. Lo bikin gua percaya kalo ada hari esok yang lebih baik, lo bikin gua mikirin masa depan gua, gua nggak percaya lo bisa ngelakuin itu. Tapi lo bisa. Lo selalu nyambut gua dengan senyum lo, lo peluk gua waktu gua jatuh, dan gua tau lo bakal selalu ada buat gua. Tapi gua lupa satu hal. Lo ga pernah butuh gua! Di mana lo ketika lo sedih? Lo bukan tuhan, gua tau lo pernah sedih. Lo selalu bilang kalo lo ga apa-apa, lo selalu buat gua yakin kalo lo bahagia, kalo gua udah bikin lo bahagia! Lo orang paling kejam sedunia. Kemana hati lo? Lo ga pernah bilang kalo lo ga bahagia, lo ga pernah bilang kalo lo kesepian, lo ga pernah ngasih gua kesempatan buat ngembaliin kebaikan lo, meskipun cuma setengahnya. Kemana lo waktu luka lo berdarah? Lo milih buat ngadepin itu sendirian, lo nangis sendirian, lo tenggelam sendirian, lo ga pernah ngasih gua kesempatan buat nyadarin itu, dan ketika gua sadar, semuanya udah terlambat. Lo kejam! Ketika lo pamit buat pergi, lo ngehancurin hidup gua buat yang kedua kali, meskipun lo udah maksa gua buat janji bahwa gua ga akan ngehancurin hidup gua lagi, dan gua penuhin janji itu. Lo ga ngerti, lo tolol! Gua utang hidup gua sama lo, dan lo bahkan ga ngasih gua kesempatan buat ngapus air mata lo. Dan lo pergi dengan semua luka lo, dengan semua alasan lo yang menurut gua adalah sampah! Mau lo bawa kemana semua kesepian lo? Tau ga lo kalo lo tuh sakit! Lo bukan malaikat, lo manusia, lo bisa jatuh, dan lo sedang jatuh, tapi kenapa lo masih bisa senyum dengan tenang dan bilang kalo lo baik-baik aja? Lo mau jatuh sendirian? Lo nggak fair. Lo nggak perlu maksain diri lo buat jadi dewi, lo manusia, lo juga bisa sedih, lo bisa kesepian (lo pergi dengan alasan itu), kenapa lo nggak pernah bilang bahwa lo kesepian? Kenapa lo ga nunjukin semuanya, kenapa lo ga pernah ngasih gua kesempatan? Dan lo pergi dengan wajah bidadari lo, gua bisa liat kalo lo sakit, kalo lo menderita! Gua bisa liat bahwa lo terbang menjauh dari gua, dengan semua kebaikan dan kemunafikan lo, dan gua tau gua ga akan pernah bisa dapetin lo lagi. Demi Tuhan yang udah lo kembaliin ke gua, kenapa lo bisa sekejam itu? Lo ga perlu jadi dewi, kenapa lo mikir lo harus bikin semuanya jadi baik? Lo ga perlu jadi dewi, bahkan kalo lo pelacur sekalipun, gua bakal tetep cinta sama lo! Lo ga ngerti itu! Dulu gua cinta sama lo, dan sekarang gua sadar kalo gua tetep cinta sama lo. Gua ga bakal berhenti cinta sama lo, meskipun lo penipu yang paling kejam dan licik sedunia, meskipun gua ragu lo masih punya hati buat lo kasih sama siapapun. Gua bakal tetep cinta sama lo, sampai gua mati dan ga ada lo yang bangunin gua lagi. Gua bakal ngenang lo malam ini, karena besok gua udah ga bakal cinta lagi sama lo. Giliran gua yang bilang selamat tinggal sama lo…
I Do Want U to Stay
Tidak ada yang selalu ada dan tidak ada yang selalu tidak ada, kecuali jika kita berpikir demikian. Pernahkah kamu berpikir begitu? Di saat-saat kamu berkata bahwa kamu membutuhkanku, pernahkah kamu berpikir bahwa aku tidak akan selalu ada? Lalu apa yang akan terjadi ketika saat itu telah tiba, mungkin kau bertanya begitu. Saat itu telah tiba sejak dulu, tidakkah kau menyadarinya? Saat itu telah ada, bahkan jauh sebelum kita bertemu.
Lalu kita bertemu. Betapa anehnya. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, tidak pernah saling peduli sebelumnya, tapi lalu serta merta kita bertemu. Bertemu itu apa sebenarnya? Apakah itu berarti munculnya kesadaran di antara kita berdua mengenai eksistensi masing-masing. Atau hanya sekadar saling mengetahui nama masing-masing?
Ya, ya, ya, betapa aku sering mengatakan hal itu setiap kali kamu berkata bahwa kamu menginginkanku untuk terus ada. Aku ada karena kamu menganggapku ada, atau setidaknya begitulah menurutmu. Bukankah aku ada untuk kemudian menjadi tidak ada? Karena itulah aku meninggalkanmu dan memberimu patung itu sebagai penggantiku. Kamu ingin sesuatu yang terus ada kan?
Rasanya aku ingin tersenyum sedih dan minta maaf, keduanya dalam waktu yang sama. Mungkinkah itu, menurutmu? Aku mungkin tidak pernah bisa merasakan seluruh hal yang kau rasakan. Kau mungkin akan berteriak di depan hidungku bahwa aku tidak mengerti. Bahwa aku tidak akan pernah mengerti. Ya, karena aku tidak akan pernah menjadi orang lain selain diriku sendiri. Tapi, pernahkah kau berpikir bahwa aku ingin sekali bisa melakukan itu? Berlutut di sisimu dan berkata bahwa aku mengerti. Tidak dalam artinya yang paling harfiah, tidak juga untuk menyepelekan apapun yang kau rasakan pada saat itu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau tidak sendiri. Tapi mungkin itu pun salah. Mungkin itu hanya akan membuat kau semakin membenciku.
Nah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengalihkan perhatianmu pada perasaan-perasaanku, justru ketika menurutku kau sedang ingin perasaan-perasaanmu diperhatikan. Aku tidak mengerti. Banyak hal yang tidak kumengerti. Dan kadang kala kita memiliki pengertian yang berbeda tentang banyak hal.
Seperti patung itu. Aku minta maaf karena telah membuatmu salah mengerti. Maafkan aku yang sering sekali membuatmu terdiam, dan mungkin juga membuatmu sedih. Banyak sekali kesalahan yang kulakukan. Terkadang aku mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak pernah ingin kukatakan.
Aku ingin mengaku, sebenarnya aku sama sekali tidak ahli membuat patung. Jangankan memahat sebuah patung, menggambarkannya pun aku tak bisa, tanpa membuatmu tertawa geli. Aku minta maaf. Kalau kau benar-benar menginginkan sebuah patung untuk menggantikanku, aku terpaksa meminta bantuan orang lain untuk membuatkanmu sebuah patung, sehingga kau tidak akan malu karena patungnya tidak terlalu bagus.
Aku ingin tersenyum sedih lagi, karena aku membuat kesalahan konyol dengan membuatmu berada dalam situasi untuk membuat pilihan. Aku rasa aku telah salah menjelaskannya, yang kumaksud adalah aku tidak akan selalu ada, karena suatu hari nanti aku akan mati, atau aku akan pergi jauh, atau kau yang mati, atau kau yang pergi jauh, atau kita berdua mati dan pergi jauh ke arah yang berlawanan. Tapi, selama hal itu belum terjadi, aku akan ada. Kecuali jika kau berbalik membenciku dan tidak ingin menemuiku, atau jika kita telah sepenuhnya kehilangan pengertian terhadap satu sama lain dan telah menjadi terlalu keras kepala. Atau jika kita dikalahkan oleh sesuatu yang bernama harga diri.
Sampai saat itu tiba, selama aku masih bisa, dengan izin-Nya, aku akan ada. Atau jika kau tidak yakin, yakinlah bahwa aku ingin selalu ada. Hanya saja aku takut membuatmu kecewa, karena aku tidak selalu tahu apa yang kau inginkan. Dan mungkin kau pun tak selalu tahu apa yang aku inginkan. Masih ada hantu-hantu itu, waktu, dan jarak, yang membangun dinding di antara hati-hati kita. Aku khawatir bahwa aku harus memberitahumu bahwa tidak ada yang pasti untuk esok hari. Tapi kita bisa yakin pada detik ini, dan detik adalah penyusun menit dan menit-menit akan menyusun hari. Kalau kita bisa mempertahankan keyakinan untuk detik ini, mungkin kita bisa mengamankan hari-hari yang akan datang. Tapi tidak ada yang pasti, bahkan keyakinan untuk detik yang akan datang.
Aku pernah merasa begitu mengerti banyak hal, tidak seluruhnya memang, tentang engkau. Tapi kau seperti sungai yang terus mengalir, mungkinkah ada hal-hal yang tidak berubah? Namamu mungkin, tapi hati dan pikiranmu akan terus tumbuh. Kau akan terus tumbuh dengan indah, karena kau bukan tokoh rekaan. Kau adalah manusia yang nyata, dengan perasaan-perasaan yang nyata. Dan akan tiba saatnya di mana beberapa hal berubah menjadi kenangan. Beberapa kenangan itu menyenangkan, tapi tidak semua. Akan ada hal-hal yang kau rasa kau lewatkan, dan kau menyimpan semuanya dalam sebuah kotak, atau album, yang kau simpan di salah satu rak di lemari pikiranmu. Dan kau kunci, karena kau tidak dapat hidup di masa lalu. Kau dapat membawanya, tapi kau tidak bisa hidup di dalamnya. Kau tidak akan bisa meraih hal-hal lain jika kedua tanganmu masih menggenggam masa lalu.
Ah, aku sudah berbicara terlalu jauh ya? Apakah aku masih tersenyum sedih? Aku tidak ingin melihatmu sedih. Sebaliknya, aku ingin melihatmu tertawa. Mohon maafkan aku, aku kadang-kadang bodoh, namun seringnya aku benar-benar bertindak bodoh. Aku memang ingin selalu ada, dan mungkin aku juga ingin kau selalu ada. Tapi aku tidak pernah memaksa. Tidak pernah. Apakah kau ingin aku memaksa? Apakah kau berpendapat bahwa aku tidak berusaha cukup keras untuk meraih hal-hal yang aku inginkan? Aku berusaha keras untuk beberapa hal, sedangkan untuk beberapa hal yang lain, aku memperlambat lariku. Aku tidak pernah merasa berhak untuk memaksa seseorang, meskipun ada waktu-waktu tertentu di mana aku ingin kau memaksaku. Aku tidak bisa memaksa, itu saja. Mungkin kau berpikir bahwa aku seorang pengecut yang tidak berani memperjuangkan sesuatu yang pantas diperjuangkan. Kau sering berkata bahwa aku terlalu pesimis, dan aku minta maaf karena mungkin hal itu membuatmu patah semangat, atau apapun. Ingatlah bahwa aku memperjuangkannya dengan caraku sendiri. Caraku yang sangat mungkin tidak efektif. Caraku yang sangat mungkin merupakan cara tertolol di dunia. Tapi mungkin kau bersedia memikirkannya, bahwa aku mempertahankanmu dengan caraku sendiri.
Sucked into The Sky
Aku ingin memandang langit dan tertarik ke dalamnya, ke atas atau ke bawah, selama itu langit, tidak apa-apa…Kenapa bawah? Bagaimana jika aku memandangnya dalam keadaan jungkir balik? Bukankah langit akan menjadi berada di bawah?
Tapi itu tidak penting, yang penting adalah aku sangat ingin menghilang ke dalamnya. Aku ingin menghapus eksistensiku, sekaligus eksistensi jasadku yang mereka ancam akan mereka hempaskan ke bumi. Apakah aku juga dapat menghapus eksistensi jiwaku?
Aku ingin mereka mengerti dan berhenti mengejar-ngejarku untuk hidup normal. Ya, betapa mengerikan kata-kata itu, “Kamu harus kembali normal, berhentilah menjadi orang gila!”. Terkadang mereka memukulkan tongkat mereka pada tiang tempat mereka mengikatku dulu.
Siapa yang gila?
Aku hanya ingin masuk ke sana, di malam-malam di mana aku dapat merasakan hamparan biru hitam yang luas dengan mutu manikam yang ditaburkan di atasnya. Aku dapat merasakan pula semilir angin yang membelai pipiku dengan lembut, tidak seperti mereka yang selalu menamparnya. Ya, aku yakin angin mencintaiku.
Aku tidak tahu lagi harus menapakkan kaki di mana, selain terbang ke atas atau masuk ke lubang di tubuh bumi, setelah akhirnya aku dapat mengerat tali rami yang mereka lilitkan di sekujur tubuhku, yang membuatku tidak dapat bernapas.
Apakah aku dapat menghapus gambar kampung ini, dan menggambar langit di atasnya? Apakah aku dapat menghapus tahun ini, bulan ini, hari ini, dan meniup sisa-sisa karet penghapusnya, seperti yang sering kulakukan di atas buku gambarku? Serpihan-serpihan karet itu membuatku geli sekaligus tidak senang. Aku meniupnya dan buku gambarku kembali bersih, putih.
Apakah aku dapat melakukannya pada kehidupanku, membuatnya kembali bersih dan putih?
Atau aku harus meloncat ke atas…untuk kemudian meluncur ke tubuh bumi yang terdalam?
Aku ingin mendongak ke atas dan menyambut uluran tangan-Nya, namun untuk menatap tegar ke depan pun aku tak bisa.
“Tak usah paksakan pandangan tegar ke depan itu,” katanya. “Tundukkan saja!”
Maka kutundukkanlah mataku. Tak dapat kuangkat lagi.
Aku ingin menatap langit dan terangkat ke atas, atau terperosok ke bawah. Atas atau bawah sama saja. Kalau aku mati dalam keadaan jungkir balik bagaimana?
Wednesday, August 10, 2005
throw rocks on me!
A man should have:
a big heart
a gut to say 'im sorry' when he's wrong
ears and heart that function properly (seandainya perusahaan2 farmasi itu dapat menciptakan obat yang dapat meningkatkan aliran darah ke telinga laki-laki, that's the real viagra for women...hehehe..don't quote this on me)
gentle touch
job (yes, a man should have a job)
what else? well, let me think of more...
Little Things
have u ever read Arundhati Roy's novel, 'The God of Small Things'? well, that novel made me shiver...have u ever consciously contemplated about the least things in your life? maybe how the lights make u feel the sad tune, or how the unfriendly shopkeeper makes u feel very low?
little things...how would we know that they are ones that make our lives complete?
Tuesday, August 02, 2005
WHY?
sehingga dunia ini sama saja ada bermilyar-milyar
mengapa perbedaan yang dianugerahkan kepada kita membuat kita saling membunuh?
mengapa warna kulit dan bentuk mata kita membuat kita merasa lebih tinggi dari yang lain?
mengapa kita begitu picik memandang seluruh dunia dalam versi lain adalah dunia yang salah, dan dunia yang kita lihat dari sudut pandang kita adalah satu-satunya dunia yang benar?
rasanya menyedihkan kehilangan sesuatu yang paling penting di dalam hidup ini...
semuanya sudah tidak berwarna
kebahagiaan kecil yang kau dapat sewaktu memandang pepohonan, bintang, dan hujan...hilang!
Kau terjajah oleh hasratmu terhadap hal-hal besar
sehingga kebahagiaan yang dulu kau rasakan ketika mengalami hal-hal kecil musnah
kau kehilangan kemampuan untuk bersyukur
di antara beban dosa yang terus kau tambah tiap hari,
kau tidak juga bisa percaya bahwa pintu keluarnya ada di depan hidungmu
kau tahu tapi kau tidak mau percaya
kau ingin memulai tapi tidak mau memulai
dan kini kau berada di atas ujung tombak yang rasanya tidak akan berakhir...
putus asa...
rasanya menyedihkan kehilangan sesuatu yang paling berharga di dalam hidup ini...
my integrity.
