Putri dan Orang Pintar
Pada suatu ketika, hiduplah seorang putri yang selalu bersedih. Ia sering terduduk di tepi sungai, jauh dari istana. Pada para pengawalnya, ia mengatakan bahwa ia lebih menyukai sungai yang airnya kurang jernih itu daripada kolam istana yang sangat jernih. Itu karena sang putri selalu merasa sedih setiap kali memandang bayangannya yang terpantul di permukaan air.
"Aku sangat tidak cantik..." batin sang putri setiap kali melihat wajah dan tubuhnya yang tercermin di air sungai. Sang putri sangat sedih hingga ia seringkali tidak dapat bergerak. Ratu sering memarahinya karena terlalu banyak melamun dan menangis.
Sebenarnya, belum lama ini sang putri merasa sangat tidak cantik. Dulu, ia selalu percaya pada orang-orang yang berkata bahwa ia cantik. Sang Raja selalu memanggilnya 'Putri kecilku yang cantik', juga para pengasuhnya yang selalu terpesona melihat senyumnya yang polos dan ceria.
Tapi, suatu hari semua senyumnya lenyap. Sejak saat itu rasa percayanya pada kata cantik hilang tak berbekas. Semua itu terjadi gara-gara ke dalam istana itu datang seorang terpelajar yang sangat senang memberi definisi dan mencari konsensus di dalam masyarakat. Orang yang terpelajar itu menyiarkan definisi cantik dengan semangat yang menggebu-gebu, di pasar-pasar, di balai kota, bahkan sampai di balariung istana. Raja tidak melarangnya karena ia adalah seorang raja yang demokratis. Ia bahkan sedikit tertarik pada orang terpelajar yang bermulut manis itu.
Pertama-tama, orang itu mengatakan bahwa cantik itu adalah kulit yang putih mulus bagaikan tahu jepang. Sang putri yang berkulit sawo matang mulai merasa ada yang salah pada dirinya.
Lalu orang itu berkata bahwa cantik itu adalah mata yang bulat, tulang pipi yang tinggi, gigi yang rapi dan kecil, hidung yang mancung, dan bibir yang tidak terlalu tipis maupun terlalu tebal.
Sang putri mulai sering termenung. Ia berkulit cokelat, bermata kecil dengan bulu mata yang jarang, bertulang hidung rendah dan berpipi tembam. Ditambah lagi, bibir bawahnya terlalu tebal.
Lalu serangan berikutnya dimulai. Cantik adalah pinggang yang ramping, kaki yang panjang, payudara dengan ukuran yang dapat dipertimbangkan, dan lekuk tubuh bak biola stradivarus.
Lalu Sang Putri mulai menangis. Ia memandang tubuhnya yang kekar atletis di cermin, dengan sepasang kaki yang jauh dari ramping namun kuat karena sering dipakai berlari, pinggang yang tidak terlalu berlekuk, dan keseluruhan tubuhnya yang gempal. Sang Putri lalu menyalahkan ayahnya yang bertubuh tambun dan ibunya yang memberikan gizi yang terlalu baik.
Sejak saat itu, sang Putri selalu terlihat bersedih. Ia ingin makan, namun tidak bisa melakukannya tanpa rasa bersalah. Pada akhirnya, sang Putri berhenti menyalahkan orang orang lain dan mulai tenggelam dalam kebenciannya pada dirinya sendiri. Dan orang terpelajar yang senang mencari konsensus dan memperkosa istilah itu terus menyiarkan ajaran sucinya pada masyarakat, di pasar, di atas batu, di balai kota, di balariung kerajaan, di tepi sungai, hingga mulutnya berbusa, dan produk kecantikan; obat pelangsing, pemutih kulit, gigi, dan racun kecoa yang dibawanya serta diserbu para gadis yang sudah tidak percaya lagi bahwa diri mereka cantik....
Sang putri masih sering duduk di tepi sungai, namun ia sudah tidak bergerak lagi. Ia sudah berubah menjadi batu dan kini sering dikerubuti oleh burung-burung kecil. Sang Raja yang demokratis makin terpikat oleh orang terpelajar yang membawa produk kecantikan itu, dan baru-baru ini sang Ratu menjalani face-lift dan operasi pembesaran payudara...
"Aku sangat tidak cantik..." batin sang putri setiap kali melihat wajah dan tubuhnya yang tercermin di air sungai. Sang putri sangat sedih hingga ia seringkali tidak dapat bergerak. Ratu sering memarahinya karena terlalu banyak melamun dan menangis.
Sebenarnya, belum lama ini sang putri merasa sangat tidak cantik. Dulu, ia selalu percaya pada orang-orang yang berkata bahwa ia cantik. Sang Raja selalu memanggilnya 'Putri kecilku yang cantik', juga para pengasuhnya yang selalu terpesona melihat senyumnya yang polos dan ceria.
Tapi, suatu hari semua senyumnya lenyap. Sejak saat itu rasa percayanya pada kata cantik hilang tak berbekas. Semua itu terjadi gara-gara ke dalam istana itu datang seorang terpelajar yang sangat senang memberi definisi dan mencari konsensus di dalam masyarakat. Orang yang terpelajar itu menyiarkan definisi cantik dengan semangat yang menggebu-gebu, di pasar-pasar, di balai kota, bahkan sampai di balariung istana. Raja tidak melarangnya karena ia adalah seorang raja yang demokratis. Ia bahkan sedikit tertarik pada orang terpelajar yang bermulut manis itu.
Pertama-tama, orang itu mengatakan bahwa cantik itu adalah kulit yang putih mulus bagaikan tahu jepang. Sang putri yang berkulit sawo matang mulai merasa ada yang salah pada dirinya.
Lalu orang itu berkata bahwa cantik itu adalah mata yang bulat, tulang pipi yang tinggi, gigi yang rapi dan kecil, hidung yang mancung, dan bibir yang tidak terlalu tipis maupun terlalu tebal.
Sang putri mulai sering termenung. Ia berkulit cokelat, bermata kecil dengan bulu mata yang jarang, bertulang hidung rendah dan berpipi tembam. Ditambah lagi, bibir bawahnya terlalu tebal.
Lalu serangan berikutnya dimulai. Cantik adalah pinggang yang ramping, kaki yang panjang, payudara dengan ukuran yang dapat dipertimbangkan, dan lekuk tubuh bak biola stradivarus.
Lalu Sang Putri mulai menangis. Ia memandang tubuhnya yang kekar atletis di cermin, dengan sepasang kaki yang jauh dari ramping namun kuat karena sering dipakai berlari, pinggang yang tidak terlalu berlekuk, dan keseluruhan tubuhnya yang gempal. Sang Putri lalu menyalahkan ayahnya yang bertubuh tambun dan ibunya yang memberikan gizi yang terlalu baik.
Sejak saat itu, sang Putri selalu terlihat bersedih. Ia ingin makan, namun tidak bisa melakukannya tanpa rasa bersalah. Pada akhirnya, sang Putri berhenti menyalahkan orang orang lain dan mulai tenggelam dalam kebenciannya pada dirinya sendiri. Dan orang terpelajar yang senang mencari konsensus dan memperkosa istilah itu terus menyiarkan ajaran sucinya pada masyarakat, di pasar, di atas batu, di balai kota, di balariung kerajaan, di tepi sungai, hingga mulutnya berbusa, dan produk kecantikan; obat pelangsing, pemutih kulit, gigi, dan racun kecoa yang dibawanya serta diserbu para gadis yang sudah tidak percaya lagi bahwa diri mereka cantik....
Sang putri masih sering duduk di tepi sungai, namun ia sudah tidak bergerak lagi. Ia sudah berubah menjadi batu dan kini sering dikerubuti oleh burung-burung kecil. Sang Raja yang demokratis makin terpikat oleh orang terpelajar yang membawa produk kecantikan itu, dan baru-baru ini sang Ratu menjalani face-lift dan operasi pembesaran payudara...
Selesai....
