Saturday, August 13, 2005

Sucked into The Sky

Aku ingin memandang langit dan tertarik ke dalamnya, ke atas atau ke bawah, selama itu langit, tidak apa-apa…Kenapa bawah? Bagaimana jika aku memandangnya dalam keadaan jungkir balik? Bukankah langit akan menjadi berada di bawah?

Tapi itu tidak penting, yang penting adalah aku sangat ingin menghilang ke dalamnya. Aku ingin menghapus eksistensiku, sekaligus eksistensi jasadku yang mereka ancam akan mereka hempaskan ke bumi. Apakah aku juga dapat menghapus eksistensi jiwaku?

Aku ingin mereka mengerti dan berhenti mengejar-ngejarku untuk hidup normal. Ya, betapa mengerikan kata-kata itu, “Kamu harus kembali normal, berhentilah menjadi orang gila!”. Terkadang mereka memukulkan tongkat mereka pada tiang tempat mereka mengikatku dulu.

Siapa yang gila?

Aku hanya ingin masuk ke sana, di malam-malam di mana aku dapat merasakan hamparan biru hitam yang luas dengan mutu manikam yang ditaburkan di atasnya. Aku dapat merasakan pula semilir angin yang membelai pipiku dengan lembut, tidak seperti mereka yang selalu menamparnya. Ya, aku yakin angin mencintaiku.

Aku tidak tahu lagi harus menapakkan kaki di mana, selain terbang ke atas atau masuk ke lubang di tubuh bumi, setelah akhirnya aku dapat mengerat tali rami yang mereka lilitkan di sekujur tubuhku, yang membuatku tidak dapat bernapas.

Apakah aku dapat menghapus gambar kampung ini, dan menggambar langit di atasnya? Apakah aku dapat menghapus tahun ini, bulan ini, hari ini, dan meniup sisa-sisa karet penghapusnya, seperti yang sering kulakukan di atas buku gambarku? Serpihan-serpihan karet itu membuatku geli sekaligus tidak senang. Aku meniupnya dan buku gambarku kembali bersih, putih.

Apakah aku dapat melakukannya pada kehidupanku, membuatnya kembali bersih dan putih?
Atau aku harus meloncat ke atas…untuk kemudian meluncur ke tubuh bumi yang terdalam?

Aku ingin mendongak ke atas dan menyambut uluran tangan-Nya, namun untuk menatap tegar ke depan pun aku tak bisa.

Tak usah paksakan pandangan tegar ke depan itu,” katanya. “Tundukkan saja!”

Maka kutundukkanlah mataku. Tak dapat kuangkat lagi.

Aku ingin menatap langit dan terangkat ke atas, atau terperosok ke bawah. Atas atau bawah sama saja. Kalau aku mati dalam keadaan jungkir balik bagaimana?


0 Comments:

Post a Comment

<< Home