I Do Want U to Stay
Tidak ada yang selalu ada dan tidak ada yang selalu tidak ada, kecuali jika kita berpikir demikian. Pernahkah kamu berpikir begitu? Di saat-saat kamu berkata bahwa kamu membutuhkanku, pernahkah kamu berpikir bahwa aku tidak akan selalu ada? Lalu apa yang akan terjadi ketika saat itu telah tiba, mungkin kau bertanya begitu. Saat itu telah tiba sejak dulu, tidakkah kau menyadarinya? Saat itu telah ada, bahkan jauh sebelum kita bertemu.
Lalu kita bertemu. Betapa anehnya. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, tidak pernah saling peduli sebelumnya, tapi lalu serta merta kita bertemu. Bertemu itu apa sebenarnya? Apakah itu berarti munculnya kesadaran di antara kita berdua mengenai eksistensi masing-masing. Atau hanya sekadar saling mengetahui nama masing-masing?
Ya, ya, ya, betapa aku sering mengatakan hal itu setiap kali kamu berkata bahwa kamu menginginkanku untuk terus ada. Aku ada karena kamu menganggapku ada, atau setidaknya begitulah menurutmu. Bukankah aku ada untuk kemudian menjadi tidak ada? Karena itulah aku meninggalkanmu dan memberimu patung itu sebagai penggantiku. Kamu ingin sesuatu yang terus ada kan?
Rasanya aku ingin tersenyum sedih dan minta maaf, keduanya dalam waktu yang sama. Mungkinkah itu, menurutmu? Aku mungkin tidak pernah bisa merasakan seluruh hal yang kau rasakan. Kau mungkin akan berteriak di depan hidungku bahwa aku tidak mengerti. Bahwa aku tidak akan pernah mengerti. Ya, karena aku tidak akan pernah menjadi orang lain selain diriku sendiri. Tapi, pernahkah kau berpikir bahwa aku ingin sekali bisa melakukan itu? Berlutut di sisimu dan berkata bahwa aku mengerti. Tidak dalam artinya yang paling harfiah, tidak juga untuk menyepelekan apapun yang kau rasakan pada saat itu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau tidak sendiri. Tapi mungkin itu pun salah. Mungkin itu hanya akan membuat kau semakin membenciku.
Nah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengalihkan perhatianmu pada perasaan-perasaanku, justru ketika menurutku kau sedang ingin perasaan-perasaanmu diperhatikan. Aku tidak mengerti. Banyak hal yang tidak kumengerti. Dan kadang kala kita memiliki pengertian yang berbeda tentang banyak hal.
Seperti patung itu. Aku minta maaf karena telah membuatmu salah mengerti. Maafkan aku yang sering sekali membuatmu terdiam, dan mungkin juga membuatmu sedih. Banyak sekali kesalahan yang kulakukan. Terkadang aku mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak pernah ingin kukatakan.
Aku ingin mengaku, sebenarnya aku sama sekali tidak ahli membuat patung. Jangankan memahat sebuah patung, menggambarkannya pun aku tak bisa, tanpa membuatmu tertawa geli. Aku minta maaf. Kalau kau benar-benar menginginkan sebuah patung untuk menggantikanku, aku terpaksa meminta bantuan orang lain untuk membuatkanmu sebuah patung, sehingga kau tidak akan malu karena patungnya tidak terlalu bagus.
Aku ingin tersenyum sedih lagi, karena aku membuat kesalahan konyol dengan membuatmu berada dalam situasi untuk membuat pilihan. Aku rasa aku telah salah menjelaskannya, yang kumaksud adalah aku tidak akan selalu ada, karena suatu hari nanti aku akan mati, atau aku akan pergi jauh, atau kau yang mati, atau kau yang pergi jauh, atau kita berdua mati dan pergi jauh ke arah yang berlawanan. Tapi, selama hal itu belum terjadi, aku akan ada. Kecuali jika kau berbalik membenciku dan tidak ingin menemuiku, atau jika kita telah sepenuhnya kehilangan pengertian terhadap satu sama lain dan telah menjadi terlalu keras kepala. Atau jika kita dikalahkan oleh sesuatu yang bernama harga diri.
Sampai saat itu tiba, selama aku masih bisa, dengan izin-Nya, aku akan ada. Atau jika kau tidak yakin, yakinlah bahwa aku ingin selalu ada. Hanya saja aku takut membuatmu kecewa, karena aku tidak selalu tahu apa yang kau inginkan. Dan mungkin kau pun tak selalu tahu apa yang aku inginkan. Masih ada hantu-hantu itu, waktu, dan jarak, yang membangun dinding di antara hati-hati kita. Aku khawatir bahwa aku harus memberitahumu bahwa tidak ada yang pasti untuk esok hari. Tapi kita bisa yakin pada detik ini, dan detik adalah penyusun menit dan menit-menit akan menyusun hari. Kalau kita bisa mempertahankan keyakinan untuk detik ini, mungkin kita bisa mengamankan hari-hari yang akan datang. Tapi tidak ada yang pasti, bahkan keyakinan untuk detik yang akan datang.
Aku pernah merasa begitu mengerti banyak hal, tidak seluruhnya memang, tentang engkau. Tapi kau seperti sungai yang terus mengalir, mungkinkah ada hal-hal yang tidak berubah? Namamu mungkin, tapi hati dan pikiranmu akan terus tumbuh. Kau akan terus tumbuh dengan indah, karena kau bukan tokoh rekaan. Kau adalah manusia yang nyata, dengan perasaan-perasaan yang nyata. Dan akan tiba saatnya di mana beberapa hal berubah menjadi kenangan. Beberapa kenangan itu menyenangkan, tapi tidak semua. Akan ada hal-hal yang kau rasa kau lewatkan, dan kau menyimpan semuanya dalam sebuah kotak, atau album, yang kau simpan di salah satu rak di lemari pikiranmu. Dan kau kunci, karena kau tidak dapat hidup di masa lalu. Kau dapat membawanya, tapi kau tidak bisa hidup di dalamnya. Kau tidak akan bisa meraih hal-hal lain jika kedua tanganmu masih menggenggam masa lalu.
Ah, aku sudah berbicara terlalu jauh ya? Apakah aku masih tersenyum sedih? Aku tidak ingin melihatmu sedih. Sebaliknya, aku ingin melihatmu tertawa. Mohon maafkan aku, aku kadang-kadang bodoh, namun seringnya aku benar-benar bertindak bodoh. Aku memang ingin selalu ada, dan mungkin aku juga ingin kau selalu ada. Tapi aku tidak pernah memaksa. Tidak pernah. Apakah kau ingin aku memaksa? Apakah kau berpendapat bahwa aku tidak berusaha cukup keras untuk meraih hal-hal yang aku inginkan? Aku berusaha keras untuk beberapa hal, sedangkan untuk beberapa hal yang lain, aku memperlambat lariku. Aku tidak pernah merasa berhak untuk memaksa seseorang, meskipun ada waktu-waktu tertentu di mana aku ingin kau memaksaku. Aku tidak bisa memaksa, itu saja. Mungkin kau berpikir bahwa aku seorang pengecut yang tidak berani memperjuangkan sesuatu yang pantas diperjuangkan. Kau sering berkata bahwa aku terlalu pesimis, dan aku minta maaf karena mungkin hal itu membuatmu patah semangat, atau apapun. Ingatlah bahwa aku memperjuangkannya dengan caraku sendiri. Caraku yang sangat mungkin tidak efektif. Caraku yang sangat mungkin merupakan cara tertolol di dunia. Tapi mungkin kau bersedia memikirkannya, bahwa aku mempertahankanmu dengan caraku sendiri.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home