U Are My Sanctuary..What Am I For U?
Yes, u are. For a skeptical homeless girl like me, i found a place in (or beside) u, a place to hold on, to tell a story after a tiring day, to convey my fears, stupid fears...and sometimes implicitly, my hopes...
Help me, i don't know how i can handle this..how i should handle it...I have been hiding for a quite long time, rather too long maybe, and i think i have come to a point where i will take all that i can get...
I have a situation here...saya tidak tahu lagi harus memperlakukan dia seperti apa, memperlakukan hubungan kami yang sederhana tapi rumit dan terkadang tak dapat lagi saya mengerti. Ketika kita menyatakan perang terhadap simbol-simbol yang telah lazim digunakan untuk mendefinisikan sesuatu yang tidak memiliki definisi yang pasti, kata cinta misalnya, kita melepaskan privilege untuk menggunakannya sebagai representasi perasaan atau pikiran kita...
Saya bingung, saya, dalam arti harfiah, merasa tidak memiliki teman, karena seperti beberapa orang lain di dunia ini, saya merasa lebih aman dalam kesendirian dan independensi...Katakanlah, saya memiliki sindrom ketidakpercayaan-akan-komitmen akut yang tumbuh dan berkembang di dalam diri saya selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir. Saya berusaha untuk menjelaskannya, secara rasional tentunya, mengikuti cara-cara yang disahkan oleh ilmu pengetahuan, ilmu jiwa dan lain-lain..juga cara-cara spiritual yang sifatnya kurang lebih transenden..dan saya masih terus melakukan itu. Ketika kita tidak memiliki teman dan keluarga yang mendukung, kita harus memilih sesuatu untuk berpegangan, something to hold on, dan Tuhan adalah salah satunya, mungkin seharusnya satu-satunya. Tapi, bagi seseorang yang memiliki setengah sifat-sifat angeli rebelli, terkadang hal itu lebih mudah untuk ditulis daripada dilakukan, dan di tengah kesendirian dan ketertutupan itu saya menemukan dia. A Sanctuary.
Dia bukan malaikat. Dia hanya seorang teman biasa yang tak lama kemudian berubah menjadi teman yang 'tak biasa' . Dia seringkali tak nyata dalam tataran teoritis karena saya bisa menyususn suatu skenario yang lebih baik, tapi dialah kenyataan dalam hari-hari saya...dia sesuatu yang tangible dan dapat saya percayai keberadaannya berdasarkan reseptor-reseptor indrawi saya. Saya hanya bisa mengatakan seperti ini: saya menginginkannya untuk hidup saya, tapi kami bertemu di usia yang terlalu muda. Kami berteman, dalam tataran normatif, tapi kami tahu ada sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang bahkan semua orang dapat melihatnya. Tapi kami memilih untuk tidak mendefinisikan diri kami dalam kategori itu, kategori orang-orang yang saling mencintai, komitmen kami berbeda, yaitu menjadi teman untuk segalanya. Saya merasa bodoh ketika jatuh cinta pada seseorang, dan memang iya :) Dia tampaknya baik-baik saja, menikmati semuanya, prejudis saya berkata bahwa karena ia laki-laki. Sedangkan saya, well, kalian tahu perempuan itu seperti apa, kadang2 stereotip yang tidak adil mengenai perempuan itu mendapatkan justifikasi ilmiah. Ya, saya merasa bahwa saya lebih merasakannya, saya lebih merasakan deraan emosional ketika ekspektasi2 bodoh itu datang, kecemburuan (demi Tuhan, saya tidak punya teman lain selain dia dan saya membenci diri saya sendiri ketika saya merasa cemburu melihatnya berbahagia dengan teman-temannya yang lain, yang sangat banyak). Saya takut kehilangan? Sebagian ya, sebagian lagi mungkin akibat testosteron yang membuat saya merasa takut kalah, takut tergantung, Ya! Saya tidak ingin mendapati diri saya tergantung pada orang lain untuk membuat saya bahagia, itu ide yang sangat mengerikan untuk saya...mungkin itu sebabnya monogami itu sulit untuk saya :) Saya hanya ingin merasa yakin bahwa ia menginginkan persahabatan ini sama besar dengan saya menginginkannya, saya hanya ingin itu, tapi laki-laki secara umum, dan beberapa tipe tertentu (saya mencoba untuk tidak menggeneralkan semua laki-laki) merasa tugas meyakinkan itu tidak nyaman bagi mereka, ya kan? Saya selalu berusaha mengatakan semuanya, tapi terkadang saya tidak merasa ditanggapi, membuat saya berpikir “Kamu menyuruh saya mengatakan semuanya, tapi kamu tidak berusaha membuat saya merasa lebih baik sesudahnya, memenuhi apa yang saya butuhkan, lalu apa gunanya berusaha jujur dan memudahkannya bagimu?”
Tolong. He is my sanctuary, i wanna have friends too..tapi sepertinya saya takut, dan belum ada yang dapat meyakinkan saya hingga hari ini, termasuk diri saya sendiri...mungkin Tuhan bisa, tapi saya takut meminta...
Well, what do u guys think? Inilah untuk apa 'virtuality' diciptakan bukan? :)
Help me, i don't know how i can handle this..how i should handle it...I have been hiding for a quite long time, rather too long maybe, and i think i have come to a point where i will take all that i can get...
I have a situation here...saya tidak tahu lagi harus memperlakukan dia seperti apa, memperlakukan hubungan kami yang sederhana tapi rumit dan terkadang tak dapat lagi saya mengerti. Ketika kita menyatakan perang terhadap simbol-simbol yang telah lazim digunakan untuk mendefinisikan sesuatu yang tidak memiliki definisi yang pasti, kata cinta misalnya, kita melepaskan privilege untuk menggunakannya sebagai representasi perasaan atau pikiran kita...
Saya bingung, saya, dalam arti harfiah, merasa tidak memiliki teman, karena seperti beberapa orang lain di dunia ini, saya merasa lebih aman dalam kesendirian dan independensi...Katakanlah, saya memiliki sindrom ketidakpercayaan-akan-komitmen akut yang tumbuh dan berkembang di dalam diri saya selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir. Saya berusaha untuk menjelaskannya, secara rasional tentunya, mengikuti cara-cara yang disahkan oleh ilmu pengetahuan, ilmu jiwa dan lain-lain..juga cara-cara spiritual yang sifatnya kurang lebih transenden..dan saya masih terus melakukan itu. Ketika kita tidak memiliki teman dan keluarga yang mendukung, kita harus memilih sesuatu untuk berpegangan, something to hold on, dan Tuhan adalah salah satunya, mungkin seharusnya satu-satunya. Tapi, bagi seseorang yang memiliki setengah sifat-sifat angeli rebelli, terkadang hal itu lebih mudah untuk ditulis daripada dilakukan, dan di tengah kesendirian dan ketertutupan itu saya menemukan dia. A Sanctuary.
Dia bukan malaikat. Dia hanya seorang teman biasa yang tak lama kemudian berubah menjadi teman yang 'tak biasa' . Dia seringkali tak nyata dalam tataran teoritis karena saya bisa menyususn suatu skenario yang lebih baik, tapi dialah kenyataan dalam hari-hari saya...dia sesuatu yang tangible dan dapat saya percayai keberadaannya berdasarkan reseptor-reseptor indrawi saya. Saya hanya bisa mengatakan seperti ini: saya menginginkannya untuk hidup saya, tapi kami bertemu di usia yang terlalu muda. Kami berteman, dalam tataran normatif, tapi kami tahu ada sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang bahkan semua orang dapat melihatnya. Tapi kami memilih untuk tidak mendefinisikan diri kami dalam kategori itu, kategori orang-orang yang saling mencintai, komitmen kami berbeda, yaitu menjadi teman untuk segalanya. Saya merasa bodoh ketika jatuh cinta pada seseorang, dan memang iya :) Dia tampaknya baik-baik saja, menikmati semuanya, prejudis saya berkata bahwa karena ia laki-laki. Sedangkan saya, well, kalian tahu perempuan itu seperti apa, kadang2 stereotip yang tidak adil mengenai perempuan itu mendapatkan justifikasi ilmiah. Ya, saya merasa bahwa saya lebih merasakannya, saya lebih merasakan deraan emosional ketika ekspektasi2 bodoh itu datang, kecemburuan (demi Tuhan, saya tidak punya teman lain selain dia dan saya membenci diri saya sendiri ketika saya merasa cemburu melihatnya berbahagia dengan teman-temannya yang lain, yang sangat banyak). Saya takut kehilangan? Sebagian ya, sebagian lagi mungkin akibat testosteron yang membuat saya merasa takut kalah, takut tergantung, Ya! Saya tidak ingin mendapati diri saya tergantung pada orang lain untuk membuat saya bahagia, itu ide yang sangat mengerikan untuk saya...mungkin itu sebabnya monogami itu sulit untuk saya :) Saya hanya ingin merasa yakin bahwa ia menginginkan persahabatan ini sama besar dengan saya menginginkannya, saya hanya ingin itu, tapi laki-laki secara umum, dan beberapa tipe tertentu (saya mencoba untuk tidak menggeneralkan semua laki-laki) merasa tugas meyakinkan itu tidak nyaman bagi mereka, ya kan? Saya selalu berusaha mengatakan semuanya, tapi terkadang saya tidak merasa ditanggapi, membuat saya berpikir “Kamu menyuruh saya mengatakan semuanya, tapi kamu tidak berusaha membuat saya merasa lebih baik sesudahnya, memenuhi apa yang saya butuhkan, lalu apa gunanya berusaha jujur dan memudahkannya bagimu?”
Tolong. He is my sanctuary, i wanna have friends too..tapi sepertinya saya takut, dan belum ada yang dapat meyakinkan saya hingga hari ini, termasuk diri saya sendiri...mungkin Tuhan bisa, tapi saya takut meminta...
Well, what do u guys think? Inilah untuk apa 'virtuality' diciptakan bukan? :)
