Ada sebuah makhluk istimewa yang disebut lelaki. Katanya mereka memiliki tubuh yang kuat dan sifat yang rasional. Lebih jauh lagi, katanya tulang rusuk mereka adalah asal mula makhluk lain yang bernama perempuan. Laki-laki, begitulah mereka dinamakan, menguasai dunia ini. It's a man's world, they say. Mengapa demikian?
Mereka diidentikkan dengan agresivitas dan pride, kehormatan dan kekuatan. Mereka tidak banyak berbicara, katanya, namun banyak bekerja. Benarkah demikian?
Beberapa dari mereka kemudian merasa bahwa diri mereka superior dan memulai sebuah struktur hirarkis di mana makhluk yang bernama perempuan dijadikan sesuatu yang bersifat subordinat. Mereka membangun sebuah sistem nilai dalam dunia laki-laki, membangun realitas yang dikonstruksi dari sudut pandang laki-laki, dan pada akhirnya melestarikan sebuah pentas dunia di mana laki-laki menjadi penulis naskah sejarah.
Saya tidak mempercayai keseluruhan cerita itu. Saya masih punya sedikit kenaifan bahwa ada beberapa gelintir makhluk yang bernama laki-laki, yang memandang perempuan sebagai makhluk istimewa pula. Laki-laki dan perempuan berbeda, oleh karena itu peran mereka berbeda. Ya kan?
Menurut saya, laki-laki itu istimewa, karena mereka berbeda. Karena cara berpikir mereka berbeda, kemampuan berbicara mereka berbeda, pandangan mereka tentang dunia sungguh berbeda.
Jadi kenapa harus ada subordinasi laki-laki-perempuan? Kenapa harus ada prioritas di antara mereka? Zaman telah berubah. Banyak sistem nilai telah berubah. Muncullah sebuah konsep emansipasi. Pembebasan. Kesetaraan. Apa lagi?
Mengapa semua itu perlu? Why can't we just live together in harmony? (tapi keharmonisan juga bisa berarti penindasan yang direlakan).
Mungkinkah ini waktu kita untuk berpaling pada kebenaran yang absolut?
Man, God's first draft.
Woman, His Masterpiece.
Hehe, ujung2nya seksis.
Mereka diidentikkan dengan agresivitas dan pride, kehormatan dan kekuatan. Mereka tidak banyak berbicara, katanya, namun banyak bekerja. Benarkah demikian?
Beberapa dari mereka kemudian merasa bahwa diri mereka superior dan memulai sebuah struktur hirarkis di mana makhluk yang bernama perempuan dijadikan sesuatu yang bersifat subordinat. Mereka membangun sebuah sistem nilai dalam dunia laki-laki, membangun realitas yang dikonstruksi dari sudut pandang laki-laki, dan pada akhirnya melestarikan sebuah pentas dunia di mana laki-laki menjadi penulis naskah sejarah.
Saya tidak mempercayai keseluruhan cerita itu. Saya masih punya sedikit kenaifan bahwa ada beberapa gelintir makhluk yang bernama laki-laki, yang memandang perempuan sebagai makhluk istimewa pula. Laki-laki dan perempuan berbeda, oleh karena itu peran mereka berbeda. Ya kan?
Menurut saya, laki-laki itu istimewa, karena mereka berbeda. Karena cara berpikir mereka berbeda, kemampuan berbicara mereka berbeda, pandangan mereka tentang dunia sungguh berbeda.
Jadi kenapa harus ada subordinasi laki-laki-perempuan? Kenapa harus ada prioritas di antara mereka? Zaman telah berubah. Banyak sistem nilai telah berubah. Muncullah sebuah konsep emansipasi. Pembebasan. Kesetaraan. Apa lagi?
Mengapa semua itu perlu? Why can't we just live together in harmony? (tapi keharmonisan juga bisa berarti penindasan yang direlakan).
Mungkinkah ini waktu kita untuk berpaling pada kebenaran yang absolut?
Man, God's first draft.
Woman, His Masterpiece.
Hehe, ujung2nya seksis.

3 Comments:
Aku tambahin deh.
Perbedaan, tidak membuat satu pihak menjadi lebih unggul. Akan kemana laki-laki kalau tidak ada perempuan ?
Laki-laki merupakan superordinat perempuan is only a history right now.
Tapi, harus diakui, laki2 memang dianugerahi untuk bisa menggunakan logikanya lebih baik daripada emosinya. Hal ini yang membuat, idealnya seorang perempuan, menjadikan laki2 menjadi seorang pemimpin. Karena pada dasarnya, lebih banyak masalah di dunia ini yang berhubungan dengan logika. Namun, bukan berarti perempuan boleh berpangku tangan, disanalah dia memegang peran penting untuk membuat laki2 tidak menjadi robot.
just my thought
hmm..tapi pernah terpikirkah bahwa masyarakat dunia masih sering memprivilege-kan perempuan, setidaknya secara tidak sadar melalui preferensi terhadap laki-laki dalam masalah pendidikan di daerah-daerah, juga esploitasi tubuh perempuan, serta konstruksi dunia mengenai kecantikan universal yang menanamkan nilai-nilai bawah sadar pada masyarakat?
sorry, ralat...i mean mempriviege-kan laki-laki...:) tapi memang pandangan feminis itu sepertinya terlalu frustatifya? sebenarnya mungkin itu bukan salah gendernya, tap salah struktur masyarakatnya juga...aduh, sepertinya saya terlalu banyak menonton film-film feminis...
Post a Comment
<< Home